Kenangan PPL SDN GEDONG 10 PAGI
Pengalaman Berharga
Pertama kali ppl di SDN gedong 10 pagi rasanya luar biasa sekali, awal awal sekali kami gerigi dalam hal adaptasi Dengan lingkungan sekolah. Setelah melewati beberapa Minggu kemudian kami pun merasa terbiasa dengan kondisi disekolah tersebut, kami mendapatkan guru pamong yang bernama pak Jayadi dan kepala sekolah yang bernama Bu rosmeri. Perjalanan panjang kami lewatkan selama ppl di SD tersebut. tepat di Minggu awal Agustus, seorang guru kelas 4c cuti karena mau melahirkan selama hampir 2 bulan. Kami pun mengajar secara bergantian dengan penuh suka cita. Hingga kami pun mengenal dan mulai menyayangi mereka seperti anak kami sendiri. Kami pun melakukan tugas kami yaitu praktik latihan. Mengajar di setiap kelas. Kebetulan saya mengawali latihan mengajar di kelas 4c, beruntung pada saat itu guru kelas 4c belum cuti. Ada satu anak laki-laki yang paling bapak perhatikan karena memiliki sesuatu yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.
Dia adalah lucky. Wajahnya yang polos dan selalu menggangguku ketika dibascamp, ataupun ketika jam istirahat dan pulang. Dia adalah anak Didik yang paling dekat dengan saya. Sudah seperti anak sendiri ketika sedang bercanda bersama. Ketika belajar dia tahu mana saatnya untuk belajar dan tahu mana saatnya untuk bermain. Dia tidak pintar tapi memiliki kemampuan dan memiliki jiwa belajar yang tinggi, tidak mau kalah dengan teman-teman yang lain. Dia terus berusaha sebisa mungkin. Dia berada dikelas 4c, kelas dimana saya pertama kali ngajar dan terakhir kali mengajar. Tidak dapat dipungkiri, memang sebelum mengajar yang terakhir kali, saya pun mengajak siswa kelas 4c untuk bernyanyi. Menyanyikan lagu guruku. Betapa terkejutnya ketika dinyanyikan bersama-sama banyak siswa yang menangis karena terharu dan tidak ingin ditinggal pergi oleh saya dan teman-teman. Perasaan sedih juga tersimpan di hati ini, hingga hati ini berkata apakah aku melakukan kesalahan sehingga membuat mereka menangis begitu. Satu orang lagi seorang siswa yang saya anggap seperti adik saya sendiri.
Dia adalah Nanda, seorang anak kelas 5b. Awalnya memang tidak begitu dekat, tetapi selepas saya mengajar dikelas 5b kami begitu dekat hingga seperti adik dan kakak. Mengapa begitu? Awalnya Nanda sering main ke basecamp sama seperti Lucki. Terua sering ketemu ketika jam istirahat karena dia sering ke basecamp kami. Hingga suatu hari saya ikut untuk mendampingi perwakilan SDN Gedong 10 pagi dalam lomba ISC Tingkat provinsi DKI Jakarta. Disitu kami pun semakin dekat, saling bercanda setiap istirahat. Saya sering memberikan arahan-arahan atau strategi untuk memenangkan setiap lomba. Hingga pulang pun kami bercanda didalam bis, hingga lelah kami bercanda bersama teman-teman yang lain juga. Selepas lomba hubungan kami sebagai adik dan kakak Semakin baik. Kami suka melakukan sharing mengenai pendidikan dan Nanda pun menceritakan tentang pacarnya. Dalam hal pendidikan Nanda bukanlah sosok yang pintar namun memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup baik. Nanda sering melakukan berbagai kesalahan sehingga sering dipanggil oleh guru kelasnya. Namun saya terus membimbing dia dan memberikan pengalaman yang saya miliki agar dia paham bahwa tindakannya tersebut adalah salah dan dapat merugikan dirinya sendiri. Saya dan Nanda juga pernah berkelahi disekolah tapi saya menganggap itu hanya bercanda saja. Dia merasa kesal sama saya selama 2 hari, tetapi setelah itu kembali seperti biasa. Maka dari itu dia sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Semua kekurangan dapat di terima dengan baik. Karena saya sudah tahu sifat dia sejak saya ikut mendampingi dalam lomba ISC tersebut. Di akhir cerita yaitu akhir masa PPL saya dan teman-teman melakukan perpisahan. Perpisahan berakhir dengan keterharuan.
Itu adalah buktinya. Hingga Nanda pun siswa yang paling kacau pun ikut nangis, semua nya menangis dari kelas 3, 4, dan 5. Saling memeluk kami sebagai guru ppl. Dan berkata jangan pergi pak jangan pergi Bu. Ingin rasanya menangis tapi air mata tidak bisa turun.tetapi hati ini merasakan rasa sedih yang amat pedih. Hingga saat ini pun saya merasa sedih meninggalkan kalian semua.
Post a Comment